Twitter

Minggu, 17 Maret 2013

Penalaran

Dalam kehidupan sehari - hari banyak sekali sesuatu hal yang kita jumpai dan membutuhkan suatu penalaran. Namun semua itu sering tidak kita sadari karena kita sendiri tidak tahu apa itu penalaran. Namun lebih baik lagi jika kita tidak hanya mengetahui tentang penalaran, namun juga tahu tentang persyaratan dalam penalaran, macam - macam penalaran dan lain - lain. Pada kesempatan ini saya akan sedikit memaparkan mengenai penalaran yang saya dapatkan dari berbagai sumber. Mari kita simak dalam tulisan berikut ini.

Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses pengambilan kesimpulan mengenai sesuatu atau hal baru dengan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Contohnya jika melakukan pengamatan yang sejenis juga akan membentuk proposisi-proposisi yang sejenis, maka berdasarkan proposisi yang diketahui atau dianggap benar tersebut seseorang akan menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui.

Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebutkan dengan konklusi (consequence). Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak,  dimana untuk mewujudkannya diperlukan sebuah simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran ini berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan berupa argumen. 

Persyaratan dalam Penalaran
 
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat-syarat dalam menalar dapat dipenuhi. Persyaratan tersebut diantaranya sebagai berikut :
  1. Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
  2. Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan-aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
Macam-macam Penalaran  
  • Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif adalah penarikan kesimpulan secara logika dari premis yang diberikan. Sebagai contoh :

Jika hari ini hari tidak hujan maka Ikhsan akan pergi ke tempat rekreasi
Hari ini tidak hujan
Oleh karena itu Ikhsan pergi ke tempat rekreasi

Dalam penarikan kesimpulan yang bersifat deduktif, kita perlu mengumpulkan fakta-fakta yang perlu yaitu suatu proposisi (pernyataan) umum dan suatu proposisi yang bersifat mengidentifikasi suatu peristiwa khusus yang bertalian dengan proposisi umum. Jika identifikasi yang dilakukan benar dan proposisinya benar, maka diharapkan suatu kesimpulan yang benar dan proposisinya menarik kesimpulan disebut premis.

  •   Penalaran Induktif

Induksi/induktif adalah men-generalisasi atau membuat umum suatu hal dari kasus-kasus yang pernah kita lihat atau alami untuk menarik kesimpulan mengenai hal lain yang belum pernah kita lihat atau alami. Misalnya jika anda pernah melihat seekor anjing berwarna hitam galak maka anda mungkin berkesimpulan bahwa semua anjing berwarna hitam adalah galak. Hal ini mungkin tidak benar.

Meskipun induksi mungkin tidak dapat diandalkan namun merupakan proses yang berguna. Induksi mengakibatkan manusia senantiasa belajar mengenai lingkungannya. Manusia mungkin dapat menghadapi masalah lain yang serupa. Kalaupun nantinya hal yang ditemui berbeda dari asumsi awal, maka manusia cenderung sulit untuk bergeser dari asumsinya.

Macam-macam Penalaran Induktif

1. Generalisasi 

Proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum.

Contoh : 

Ibrahimovic adalah seorang pesepakbola, dia berpostur badan tinggi
Ronaldo adalah seorang pesepakbola, dia berpostur badan tinggi

*Generalisasi : "Semua pesepakbola berpostur badan tinggi" hanya memiliki kebanaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya. Contoh kesalahannya : Andik adalah pesepakbola, tetapi tidak berpostur badan tinggi.

Berdasarkan jumlah fenomena yang menjadi dasar penyimpulan, generalisasi dibedakan menjadi dua, yaitu generalisasi sempurna dan generalisasi sebagian atau generalisasi tidak sempurna.

Generalisasi Sempurna

Generalisasi sempurna adalah generalisasi yang mana diselidikinya seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan. Sebagai contoh : setelah kita memperhatikan jumlah hari setiap satu minggu pada setiap bulan, kemudian dapat diambil kesimpulan bahwa setiap satu minggu dalam satu bulan memiliki hari tidak lebih dari tujuh. Dalam penyimpulan ini keseluruhan fenomena yaitu jumlah hari pada setiap satu minggu kita selidiki satu persatu tanpa adanya yang ditinggalkan. Kesimpulan dari generalisasi diatasa merupakan suatu kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat.

Generalisasi Tidak Sempurna

Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi yang mengambil kesimpulan hanya pada sebagian fenomena, tetapi kesimpulan tersebut berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki. Sebagai contoh : kita menyelidiki sebagian mahasiswa Gunadarma sangat antusias membaca buku diperpustakaan, kemudian disimpulkan bahwa mahasiswa Gunadarma adalah mahasiswa yang sangat antusias membaca buku diperpustakaan, maka kesimpulan ini adalah generalisasi tidak sempuran atau sebagian.

Generalisasi yang semacam ini banyak digunakan dalam perkembangan pengetahuan karena generalisasi ini menciptakan ilmu yang disusun berdasarkan fakta-fakta observasi, karena ilmu tidak untuk menyajikan kebenaran mutlak melainkan kebenaran relatif, karena kalau ilmu berdasarkan pada suatu kebenaran yang pasti mutlak maka perkembangan ilmu tersebut sangat lambat, karena hanya mengkaji kebenaran, dan kebenaran itu bisa berangkat dari suatu kesalahan yang diobservasi. Walaupun generalisasi ini hanya berdasarkan pada sejumlah fenomena tapi kesimpulan yang didapatkan akan menjadi betul dan kuat apabila didasarkan pada prosedur yang benar.

2. Analogi

Analogi adalah cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunya sifat yang sama. Analogi mempunyai 4 fungsi, antara lain :

a. Membandingkan beberapa orang yang memiliki sifat kesamaan.
b. Meramalkan kesamaan
c. Menyingkapkan kekeliruan
d. Klasifikasi

Contoh analogi : 

Kanita adalah lulusan Akademi Dragon.
Kanita dapat menjalankan tugasnya dengan sangat baik.
Ali adalah lulusan Akademi Dragon.
Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan sangat baik.

3. Kausal

Kausal merupakan prinsip sebab-akibat yang ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan -kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.

Macam hubungan kausal :

Sebab-akibat 
Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.

Akibat-sebab
Bobi tidak lulus dalam ujian kali ini disebabkan dia tidak belajar dengan baik

Akibat-akibat
Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran dirumah basah.

Contoh Kausal :

Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagai penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal.

Sumber :

Wikipedia. Penalaran.
http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran [Tanggal akses : 14 Maret 2013]

Aatmandai. 2012. Generalisasi.
http://aatmandai.blogspot.com/2012/05/generalisasi.html [Tanggal akses : 14 Maret 2013]

Wikipedia. Kausaltias.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kausalitas [Tanggal akses : 14 Maret 2013]
Agushinta, Dewi R & Primashanti, Ida Ayu Yulie. 2007. Interaksi Manusia dan Komputer.  
Depok : Universitas Gunadarma.

Imasmasriahprasetya. 2012. Bahasa Indonesia Tentang Penalaran, Induksi, Deduksi.
http://imasmasriahprasetya.wordpress.com/2012/03/18/bahasa-indonesia-tentang-penalaraninduksideduksi/ [Tanggal akses : 14 Maret 2013]

Yogatama Anggita. 2012. Penalaran Induktif.
http://yogatama-anggita.blogspot.com/2012/04/penalaran-induktif.html [Tanggal akses : 14 Maret 2013]


Panksgatsred. 2011. Penalaran Induktif.
http://panksgatsred.blogspot.com/2011/02/penalaran-induktif.html [Tanggal akses : 14 Maret 2013]

0 komentar:

Posting Komentar